Rp 0

No products in the cart.

Filosofi Mendalam di Balik Batik Truntum: Kisah Ratu Berhati Tulus

More articles

Sobat Batik, hari ini saya mau cerita tentang selembar kain yang lahir dari rasa sepi seorang ratu. Bukan kain perang, bukan pula kain kebesaran raja, tapi kain yang dibatik dengan sabar oleh seseorang yang sedang menunggu cintanya kembali. Kain itu kita kenal sekarang sebagai batik truntum.

Kalau Sobat Batik pernah datang ke pernikahan adat Jawa, kemungkinan besar sudah pernah melihatnya. Motifnya sederhana: taburan bunga atau bintang kecil di atas latar gelap. Biasanya kain ini dikenakan oleh orang tua pengantin. Tapi di balik kesederhanaan itu ada kisah yang menurut saya termasuk paling menyentuh di antara motif-motif klasik Jawa.

Dari Keraton Surakarta, abad ke-18

Kisah batik truntum hampir selalu dikaitkan dengan Kanjeng Ratu Kencana, yang juga dikenal sebagai Ratu Beruk. Beliau adalah pendamping Sunan Pakubuwana III dari Keraton Surakarta, yang bertakhta pada 1749 sampai 1788. Dalam beberapa tulisan beliau disebut permaisuri, dalam tulisan lain disebut garwa ampil atau istri selir. Sobat Batik akan menemukan kedua versi itu, dan menurut saya tidak perlu diperdebatkan panjang. Yang membuat kisahnya bertahan adalah perasaan di dalamnya.

Diceritakan bahwa sang ratu merasa diabaikan. Sang Sunan sedang menaruh perhatian pada orang lain, dan hari-hari sang ratu menjadi sepi. Dalam artikel Kompas.com tentang batik truntum, Koordinator Museum Batik Indonesia menceritakan bahwa Kanjeng Ratu Beruk sedih karena tidak dikunjungi setiap hari, lalu memandang bintang dan menjadikannya motif batik. Versi lain menyebut perhatiannya tertuju pada bunga tanjung yang berguguran di halaman keraton pada suatu malam.

Bintang atau bunga tanjung, keduanya bermuara pada hal yang sama. Sang ratu tidak membalas rasa sepinya dengan amarah. Ia duduk, mengambil canting, dan menuangkan perasaannya ke atas kain.

Cinta yang tumbuh kembali

Bagian yang paling saya sukai ada di sini. Ketekunan sang ratu membatik ternyata menarik perhatian Sang Sunan. Ia mulai sering datang melihat prosesnya, sampai akhirnya rasa sayangnya kepada sang ratu bersemi lagi.

Dari situlah nama motif ini dikaitkan dengan kata Jawa tumaruntum, yang artinya tumbuh kembali atau bersemi kembali. Batik truntum kemudian dimaknai sebagai lambang cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan justru semakin subur seiring waktu.

Saya sering bilang kepada teman yang baru belajar batik: motif ini bukan tentang cinta yang menggebu di awal. Ini tentang cinta yang dirawat dengan sabar, bahkan saat sedang tidak dibalas. Karena itulah judul tulisan ini menyebutnya kisah ratu berhati tulus.

Perajin batik tulis menorehkan malam dengan canting di depan kain bermotif bunga kecil
Perajin menorehkan malam dengan canting. Kesabaran seperti inilah yang dulu juga dijalani Kanjeng Ratu Kencana.

Pelajaran dari canting sang ratu

Kisah ini sering diceritakan sebagai kisah romantis, dan memang begitu. Tapi sebagai orang yang setiap hari bergaul dengan kain, saya melihat pelajaran lain di dalamnya. Membatik tulis bukan pekerjaan sekali duduk. Malam harus dipanaskan, canting diisi berulang kali, dan setiap titik ditorehkan dengan tangan. Satu kain bisa memakan waktu berhari-hari, bahkan lebih lama.

Artinya, sang ratu tidak sedang meluapkan perasaan dalam satu malam saja. Ia merawat perasaannya hari demi hari, titik demi titik. Motif yang lahir dari proses seperti itu wajar kalau kemudian dimaknai sebagai cinta yang tumbuh perlahan dan bertahan lama. Setiap kali saya memegang kain truntum, saya teringat bahwa kesabaran juga bisa menjadi bahasa cinta.

Cara mengenali motif batik truntum

Secara visual, motif batik truntum cukup mudah dikenali kalau Sobat Batik tahu apa yang dicari:

  • Latar gelap. Warna dasarnya biasanya cokelat soga sampai biru kehitaman. Latar ini sering dimaknai sebagai gelapnya malam.
  • Ornamen kecil yang bertabur. Di atas latar itu tersebar bentuk bunga atau bintang kecil, umumnya berwarna putih atau kekuningan, mirip langit malam yang penuh bintang.
  • Susunan rapat dan berulang. Ornamennya disusun teratur dan berulang, sehingga dari jauh kainnya terlihat berkilau lembut.

Truntum juga sering dipakai sebagai motif dasar yang dipadukan dengan ragam hias lain. Dalam buku-buku motif batik klasik, Sobat Batik bisa menemukan turunan seperti Truntum Babon Angrem, Truntum Pari, dan Truntum Garuda.

Kenapa dipakai orang tua pengantin?

Ini pertanyaan yang paling sering saya terima. Dalam pernikahan adat Jawa, kain bermotif truntum biasanya dikenakan oleh orang tua kedua mempelai. Ada dua harapan di baliknya.

Pertama, agar cinta yang tumaruntum, yang terus tumbuh itu, ikut menghinggapi pasangan yang baru menikah. Kedua, sebagai pengingat bahwa orang tua punya tugas untuk menuntun kedua mempelai memasuki kehidupan baru. Orang tua menjadi teladan, dan teladan itu diharapkan turun kepada anak-anaknya.

Ada satu etika kecil yang menarik. Dalam artikel Kompas.com yang sama, disebutkan bahwa bagi yang memahami maknanya, sebaiknya tidak memakai kain motif truntum saat menghadiri undangan pernikahan, karena tamu bukanlah orang tua pengantin. Jadi kalau Sobat Batik diundang ke pernikahan adat Jawa, lebih aman memilih motif lain.

Pola bunga dan bintang kecil bertabur di atas latar gelap, mirip susunan motif truntum
Bintang dan bunga kecil di atas latar gelap: susunan yang dekat dengan cara motif truntum biasa dikenali.

Bolehkah memakai batik truntum sehari-hari?

Tentu boleh. Di luar acara pernikahan, motif ini tetap indah dan maknanya justru enak dibawa ke keseharian. Beberapa momen yang menurut saya cocok:

  • Acara keluarga. Syukuran, ulang tahun pernikahan orang tua, atau kumpul keluarga besar. Pesan tentang kasih sayang yang terus dirawat terasa pas di sini.
  • Hadiah untuk orang tua. Selembar kain atau kemeja bermotif truntum bisa menjadi cara halus mengucapkan terima kasih atas kesabaran mereka.
  • Acara resmi yang tidak terkait pernikahan. Latar gelapnya memberi kesan kalem dan berwibawa.

Kalau ingin tampil lebih modern, padukan kemeja atau blouse bermotif truntum dengan celana atau rok polos. Biarkan motifnya yang berbicara.

Tips memilih kain truntum yang tepat

Sebelum membeli, ada beberapa hal yang biasanya saya sarankan:

  1. Tanyakan tekniknya. Batik tulis, cap, dan kombinasi punya karakter dan harga yang berbeda. Kalau masih bingung membedakannya, baca dulu tulisan saya tentang cara membedakan batik tulis, cap, dan print.
  2. Perhatikan kerapian ornamen. Taburan bunga atau bintang yang rapi dan konsisten menunjukkan pengerjaan yang teliti.
  3. Sesuaikan dengan acaranya. Untuk orang tua pengantin, pilih kain dengan nuansa klasik. Untuk pemakaian harian, potongan modern lebih praktis.
  4. Kenali ceritanya. Memakai batik akan terasa lain ketika kita tahu makna di baliknya.

Membawa makna truntum ke lemari Sobat Batik

Di Denmas Batik, saya selalu percaya bahwa batik yang paling berharga adalah batik yang dipakai, bukan disimpan. Sobat Batik bisa mulai menjelajah koleksi batik pria untuk kemeja yang rapi dan berwibawa, atau koleksi batik wanita untuk blouse dan outer yang anggun. Pilihan lengkapnya ada di katalog batik Denmas Batik.

Kalau tertarik mengenal motif klasik lainnya, baca juga kisah makna filosofi batik kawung, motif yang berbicara tentang kesucian dan pengendalian diri.

Cinta yang dirawat, bukan dituntut

Batik truntum mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi tidak mudah: cinta yang tulus tidak selalu berteriak. Kadang ia hadir lewat ketekunan, lewat titik-titik kecil yang ditorehkan satu per satu sampai menjadi langit yang penuh bintang.

Jadi, kalau suatu hari Sobat Batik melihat orang tua pengantin mengenakan kain bermotif bintang kecil di atas latar gelap, sekarang Sobat Batik tahu ceritanya. Siapa di rumah yang menurut Sobat Batik paling pantas dihadiahi selembar truntum?

- Advertisement -spot_img

Latest